Senin, 27 Januari 2020

Resensi Novel : Berkeliling Dunia Melalui Kisah Sri Ningsih


“Berkeliling Dunia Melalui Kisah Sri Ningsih”
- Anna Theresia Irawan -

Identitas Novel
Judul : Tentang Kamu
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun terbit : 2016
Cetakan : IV
Tebal Buku : 515 Halaman (Bab 1- Bab 33)

Sampul Novel Tentang Kamu Tere Liye

Sri Ningsih, sosok yang berhasil merangsang rasa ingin tahu Zaman Zulkarnaen melalui kisahnya. Zaman Zulkarnaen adalah salah satu pengacara yang tergabung dalam firma hukum Thompson & Co. dan mendapatkan mandat untuk mencari tahu ahli waris dari Sri Ningsih, salah satu klien besar di firman hukum tersebut. Kepergian dari Sri Ningsih tidak hanya meninggalkan duka cita mendalam bagi orang-orang terdekatnya tetapi juga harta warisan senilai satu miliar poundsterling yang akan menjadi hak milik ratu kerajaan Inggris jika tidak ditemukan pewaris sahnya. Dengan bermodalkan mandat dan informasi seadanya, Zaman menelusuri satu-persatu kisah Sri Ningsih.

Zaman mengawali penelusuran mengenai kisah Sri Ningsih dari panti jompo La Cerisaie Maison de Retraite. Panti jompo ini terletak beberapa ratus kaki dari Menara Eiffel. Panti jompo ini yang menghantarkan Zaman Zulkarnaen melakukan petualangannya ke Indonesia. Lebih tepatnya, ke dalam petualangan menelusuri kehidupan Sri Ningsih yang menjadi klien besarnya. Petualangannya dimulai Pulau Bungin, sebuah pulau kecil yang dihuni oleh mayoritas nelayan. Pulau Bungin diceritakan di dalam buku ini memiliki keunikan diantaranya rumah penduduk yang berada di atas permukaan laut, pemandangan yang begitu luar biasa di sore hari sambil menikmati secangkir kopi, dan pengalaman buang air besar langsung ke lautan lepas! Pengalaman yang menarik perhatian khalayak umum. Sebenarnya masih banyak lagi keunikan Pulau Bungin yang diceritakan dalam buku ini, tetapi tiga hal tersebut yang menjadi perhatian utama saya dalam membaca buku ini. Ada lagi yang paling menarik dalam petualangan di Pulau Bungin yaitu mengenai Kisah Sri Ningsih kecil. Pulau Bungin yang menjadi saksi dilahirkannya seorang anak Sri Ningsih yang harus menerima kenyataan hidup yang begitu pahit. Namun dari kesakitan yang dijalani itu, Sri Ningsih tetap mensyukuri setiap pemberian Allah kepadanya bahkan mampu berdamai dan memaafkan rasa pahit itu.

Tidak hanya berakhir di Pulau Bungin, kisah Sri Ningsih terus berlanjut ke berbagai tempat bahkan tempat yang menjadi impiannya. Dalam setiap tempat tersirat perjuangan Sri Ningsih untuk bertahan hidup dan mewujudkan impiannya. Kota kecil maupun kota besar, dalam negeri maupun luar negeri sudah bukan jadi tandingannya. Bayangkan sesosok anak kecil yatim piatu yang berangkat dari mimpi kecil berhasil menaklukkan dunia dengan keringat kedisiplinannya!

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca khususnya kawula muda yang sedang merajut untaian demi untaian mimpi. Semangat dan tekad bulat yang mengalir dalam diri Sri Ningsih membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil selagi berusaha dan tidak ada yang tidak mungkin jika terus berserah kepada Allah. Gagal itu pasti. Setiap insan pasti mengalami kegagalan. Akan tetapi, proses kegagalan merupakan pengalaman yang mendewasakan. Kuncinya adalah bagaimana bisa bangkit dari kegagalan dan belajar dari hal tersebut.

Rajut mimpimu dan ayo wujudkan!
Jangan pernah takut GAGAL !

               


Selasa, 10 Desember 2019

Tabur-Tuai Kehidupan


Tabur-Tuai Kehidupan

            Sekolah Menengah Atas Sion adalah sekolah swasta yang cukup terkenal di kotaku. Sekolah ini terkenal dengan murid-muridnya yang selalu menjuarai kompetisi baik akademik maupun non akademik. Sekolah ini berdiri sejak tahun 2009 dan telah mengalami banyak transformasi sejak pembangunan yang pertama. Mulai dari gedung yang tidak bertingkat dan hanya memiliki beberapa ruang kelas hingga menjadi sekolah yang bertingkat empat dengan sudah memiliki 28 ruang kelas dan ruang-ruang fasilitas yang mendukung pembelajaran, seperti laboratorium komputer, laboratorium fisika, dan ruang fasilitas lainnya. Bersekolah di sekolah ini sudah menjadi mimpi besar bagiku sedari dulu. Jika bukan karena beasiswa, mungkin aku tidak akan dapat menginjakkan kakiku di sini hingga aku mencapai tingkat paling akhir yaitu tingkat tiga.
Senin pagi adalah hari rutin untuk upacara. Dengan mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan topi, dasi dan tali pinggang aku berdiri tegak, berbaris rapi dan siap untuk mengikuti rangkaian kegiatan upacara. Aku memperhatikan para petugas upacara yang sedang bersiap mempersiapkan upacara yang akan segera dimulai. Mereka juga mengenakan seragam lengkap seperti yang kugunakan saat ini. Para petugas perempuan juga mengenakan sedikit make up sehingga terlihat sangat segar.
Heh, gua enggak mau ya berdiri di sebelah anak tukang bakso!” Gerutu Gita dengan tiga sahabat yang ada di dekatnya. Perkataan Gita sontak membuatku terkejut dan menundukkan kepala. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain diam dan menundukkan kepalaku. Gita adalah teman sekelasku sedari aku kelas 10 dulu. Sudah menjadi kebiasaannya untuk mengolok-olokku. Awalnya aku sangat sedih dan kesal tetapi aku sadar tidak bisa melawan. Jika aku melawan, beasiswaku kemungkinan bisa dicabut karena ayahnya adalah donatur terbesar di sekolah ini. Jadi aku memilih mengalahkan egoku untuk tidak melawannya.
Udah Git, daripada nanti kita ketularan bau bakso kita mendingan jauh-jauh dari dia.” Gita dan genk-nya akhirnya pergi melengos dengan tatapan sinis. Aku yang tidak bisa melawan hanya memperhatikan saja dari jauh. Terkadang aku tidak mengerti mengapa mereka berlaku demikian terhadapku. Memang apa salahnya jika mempunyai ayah tukang bakso? Ayahku memang tukang bakso tapi aku tidak pernah malu sedikit pun. Aku bangga kepada ayahku karena dari hasilnya berjualan bakso tersebutlah ayahku bisa menghidupi aku, ibu dan satu adikku.
Aku menyadari perubahan perilaku Gita semenjak aku berhasil menggeser posisinya dan mendapatkan peringkat satu umum pada kelas 1 semester akhir. Semenjak ia tidak lagi memegang gelar sebagai peringkat satu umum, ia bersama dengan genk-nya selalu mengolok-olokku. Apa pun yang aku lakukan tidak ada yang baik menurutnya. Aku pernah membuat surat permohonan maafku meskipun aku sendiri tidak mengetahui kesalahanku. Akan tetapi, bukannya maaf yang kuterima malah surat itu menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Gita tidak memaafkanku bahkan dia menjadikan surat itu senjatanya untuk semakin mengolok-olokku.  
Sepulang sekolah, aku diberitahu ibu bahwa ayah sedang berada di Rumah Sakit. Bukan karena ayah sakit tetapi karena ayah sedang membantu orang yang mengalami tabrak lari. Aku semakin bangga kepada ayahku sendiri. Baik sekali ayahku mau mengorbankan waktunya untuk membantu orang lain. Setelah makan siang, aku beserta ibu dan adikku bergegas menyusul ayah yang berada di Rumah Sakit untuk mengantarkan makan siang.
“Yah, Bapak itu kenapa bisa ditabrak lari?” tanyaku kepada ayah yang sedang meneguk air putih yang kami bawakan untukknya.
“Setahu ayah tadi Bapak ini nyebrang jalan sambil nelfon, dari belakang ada motor ngebut. Terus bapak ini ketabrak eh motor yang nabrak malah lari gak mau tanggung-jawab. Ayah gak sempat perhatikan nomor polisi motornya tadi.” Jawab Ayah.
“Keluarganya sudah tahu, Yah?”
“Sudah, tadi sudah dihubungi sama pihak Rumah Sakit”
Aku mengangguk pelan. Ada dua wanita memasuki ruang tempat kami menunggu. Satu wanita paruh baya, dan satunya lagi seumuran denganku. Aku mengenal siapa wanita yang seumuran denganku itu. Bahkan amat sangat mengenalnya. Dialah Gita, orang yang gemar mengolok-olokku. Wajahnya sangat terkejut melihat keberadaanku di sana. Tanpa menegurku, ia menghampiri ayahnya yang sedang terbujur lemah di atas matras rumah sakit. Air matanya tumpah. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Orang pintar, dan paling jago meremehkan orang lain ternyata bisa juga menangis.
“Bu, maaf. Karena sudah ada keluarga bapak ini, saya dan keluarga saya mau pamit pulang.” Sapa ayahku kepada wanita yang kutebak adalah mamanya Gita.
“Terima kasih banyak ya Pak atas bantuan bapak.” Sahut wanita tersebut. Ia mengeluarkan amplop coklat dan menyerahkannya ke ayah ,“Ini buat Bapak.”
Ayah menolak dengan halus, “Tidak usah, Bu. Kami tulus hati mau menolong bapak ini. Bukan karena imbalan.”
“Ini pak terima saja. Ini bentuk ucapan terima kasih kami.”
“Tidak usah, Bu. Kami sangat ikhlas membantu keluarga Ibu. Kami pamit pulang ya, Bu.” Jawab ayah dan kami sekeluarga pun keluar dari ruangan tersebut.
Aku semakin mengagumi ayahku. Betapa aku bangga memiliki ayah yang dengan tulus hati mau mengorbankan waktunya menolong orang yang kesusahan dan menolak untuk diberikan imbalan. Meskipun ayah tidak mengenal orang tersebut. Jika aku di posisi ayah, belum tentu aku berlaku demikian. Apalagi tahu bahwa yang akan aku tolong adalah orang yang sering mengolok-olokku. Tapi, aku belajar dari ayahku untuk berbuat kebaikan kepada siapa pun orangnya.
            Sekolah hari ini memang tampak seperti hari biasanya. Tapi aku tidak pernah merasa begitu gembira seperti hari ini. Tadi sepulang sekolah Gita mendatangiku. Aku awalnya takut dan mengira bahwa ia akan mengolok-olokku lagi. Ternyata, sangat di luar dugaan. Gita mengulurkan tangan kanannya ke hadapanku dan ia meminta maaf atas perbuatan yang selama ini ia lakukan. Aku sangat terkejut melihat perubahan perilakunya yang sangat drastis. Kami pun akhirnya berjabat tangan dan saling berpelukan layaknya seorang saudara. Betapa senangnya hatiku!
            Tidak ada yang bisa menduga peristiwa yang terjadi di dalam hidup ini. Aku tidak akan pernah menyangka bahwa ayahku yang menjadi bahan olok-olokan Gita akan menolong Ayahnya sendiri. Aku juga tidak akan pernah menyangka bahwa peristiwa tersebut akan membuat Gita meminta maaf dan berjanji tidak akan berlaku buruk lagi kepadaku. Dunia memang tidak pernah bisa ditebak! Tapi, terima kasih, Yah! Kau mengajarkan satu nilai penting dalam hidupku. Nilai itu adalah kebaikan. Aku akan belajar untuk berbuat baik kepada siapa pun dan dimana pun.    


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kebaikan adalah kewajiban yang harus kita jalankan, kepada siapa pun dan dimana pun. Kebaikan bukan menandakan bahwa kita kuat. Justru dengan berbuat kebaikan menandakan bahwa sebetulnya kita adalah manusia lemah yang membutuhkan pertolongan. Sesungguhnya kita bisa berbuat baik bukan karena apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita peroleh. Tanpa terlebih dahulu menerima kebaikan, kita tidak akan pernah bisa berbuat baik. Kebaikan yang kita terima itu adalah kebaikan kekal yang dari pada Allah sendiri. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berbuat baik. 


Selamat berbuat kebaikan!

Ada kisah menarik yang bisa dibagikan tentang berbuat baik atau menerima kebaikan?
Silahkan share !
Tidak ada salahnya membagikan pengalaman hidup yang kemudian dapat memberkati orang lain.

Selasa, 18 April 2017

Sebuah analogi


Kemarin, aku pergi mengelilingi toko sepatu salah satu brand cukup terkenal di dalam mall dekat daerah asramaku. Hari itu hari minggu dan toko sepatu yg kusinggahi cukup ramai pengunjungnya. Setelah memutari beberapa jenis sepatu, aku masih belum mendapatkan pilihanku.
Pilihan pertamaku jatuh pada sebuah sneakers berwarna biru pastel dipadu dengan warna merah jambu. Hatiku yang telah terpikat pada sepatu tersebut memutuskan untuk segera mencobanya. Setelah mencoba,ternyata kakiku terlalu besar untuk sepatu yang indah tersebut. Segera aku memanggil seorang wanita paruh baya berseragamkan hitam dan bertanya untuk nomor sepatu yang lebih besar. Wanita itu menangguk dan mengambil sepatu yang telah berhasil membuatku jatuh hati. Setelah beberapa menit menunggu, wanita tersebut datang.
"Mbak maaf, untuk sepatu yang ini hanya tersisa nomor yang ini."
Kecewa menyelimuti sekujur tubuh dan batin yang telah menunggu cukup lama. Dengan senyum yang dipaksakan aku mengangguk dan berkata,"makasih ya mbak."
Aku memutari kembali toko tersebut dan tidak ada yang berhasil kembali memikat hatiku.
Sepatu yang cantik tersebut memang indah, namun bila dipaksaan untuk memakainya kakiku akan sakit dan memar dibuatnya. Aku memutuskan untuk kembali sekedar melihat lihat kembali sepatu yang berhasil menarik minatku. Kemudian pulang dengan penuh lapang dada.


apa yang kamu sukai belum tentu cocok denganmu. Bila kau paksakan, yang ada kau  hanya menyiksa dirimu.
Apa yang cocok denganmu memang belum tentu kamu sukai. Kau tidak menaruh hati padanya meskipun dia berikan kenyamanan untukmu.
mana kau pilih?
Yang kamu sukai tapi menyakitimu atau yang tidak menarik hatimu tapi paham kebutuhanmu?

Selasa, 21 Februari 2017

Aku baik baik saja



 “Aku baik-baik saja Galih. Sungguh.” Jawabku perlahan berupaya meyakinkan Galih.

Aku terdiam sejenak. Semakin lama aku membisu, semakin Galih menatap kedua mataku lamat lamat.

Galih, memang hanya kamu yang benar benar mengerti keadaanku ini!

“Maafkan aku…” Suaraku perlahan lirih dan menyusut. Kedua mataku yang semula kering mulai basah menahan tangis.
***

Hari itu pukul tujuh lewat lima belas menit.
Dengan penuh gairah, aku yang biasa datang terlambat kali ini datang lima belas menit lebih cepat dari biasanya. Untuk pertama kalinya aku tampak percaya diri mengenakan Dress biru muda dipadu dengan high heels dengan tinggi 3 cm yang awalnya merupakan musuh terbesarku. Awalnya aku sangat tidak setuju atas saran mama untuk berpenampilan seperti ini. Namun karena ini adalah hari special kita,aku memberanikan diri untuk berdamai dengan kedua musuh terbesarku ini.


Kali pertama dalam hidupku, aku ingin berpenampilan istimewa hanya untuk kamu.


Aku menempati meja yang telah menjadi tempat andalan kita berdua-- pojok kanan dekat jendela. Tempat favorit kita berdua karena merupakan tempat strategis. Pertama,terdapat saklar yang merupakan surga para Mahasiswa. Kedua dapat memperhatikan pemandangan di luar dan orang orang sekitar yang kemudian dapat menjadi bahan obrolan kita.

5 menit ….

10 menit…..       


Menunggu memang hal paling membosankan. Baru sepuluh menit  aku duduk disini, kakiku sudah gatal rasanya tidak tahan ingin pulang. Namun semakin aku merasa ingin pergi, aku semakin diingatkan akan hari istimewa ini. Aku sesekali memainkan gawai sambil memperhatikan keadaan sekeliling untuk mengatasi jenuh yang sudah mulai hinggap. Di tengah kesibukanku memperhatikan keadaan sekitar, kedua bola mataku berhenti pada satu sosok laki laki bertubuh kurus dan sedikit tinggi  mengenakan kemeja berwarna abu abu dan celana jins hitam membawa setangkai bunga merah dan kotak kecil yang dibalut mengenakan kertas kado biru muda.


Iya, laki laki itu adalah kamu, kamu yang telah lama aku tunggu.


Senyum menghiasi wajah luguku yang terpoles sedikit make up hasil karya mama dan kakak perempuanku. Aku sangat senang sekali ternyata kamu tidak melupakan hari istimewa ini. Kau tampak sempurna sama seperti pada saat pertama kita bertemu dahulu. Kali ini hanya tubuhmu yang bertambah tinggi, namun bagiku kamu masih si jagoanku yang dulu yang selalu saja membelaku di saat teman-teman yang lain mengejek karena aku tidak bisa bermain gundu; yang selalu hadir disaat aku menangis.Senang sekali rasanya, Aku mempersiapkan diri dengan baik; bercermin dan membetulkan rambut yang tidak tertata dengan benar. Setelah usai memperbaiki sedikit tampilanku, aku dibuat bingung oleh tingkahmu yang tidak langsung masuk ke dalam kafe melainkan duduk tepat di kursi depan – seperti sedang menunggu seseorang.


Siapa yang sebenarnya kau tunggu? Aku disini.


Aku masih memperhatikanmu dari sini. Kau tampak cemas, sambil terus menerus memperhatikan jam hitam yang melingkar manis di jarimu. Tingkahmu membuatku bingung. Tidak tahukah kamu bahwa aku ada disini? Haruskah aku pergi kesana untuk menemuimu? Segala pertanyaan muncul begitu saja dalam otakku. Dengan bimbang, aku memutuskan untuk pergi menghampirimu. Baru hendak meluruskan kaki untuk berdiri, aku melihat seorang perempuan tidak terlalu tinggi mengenakan kaos putih berbalut kemeja biru tua dan celana jins dipadu sepatu converseberwarna abu abumenghampiri tempat dudukmu.


Who is she?


Perempuan itu terlihat sangat manis dengan style yang rada tomboy. Terlihat sederhana tapi berkelas. Rambutnya ia biarkan tergerai, sangat sempurna dengan poni panjang berbelah tengah tengah yang menghiasi wajah ayunya. Sejenak aku mengagumi wanita itu. Ia terlihat cantik tanpa mengenakan Dress dan high heels, terlihat manis walau tanpa riasan make up di wajahnya. 


Tapi siapakah dia? Kamu belum pernah menceritakan tentang dia sebelumnya kepadaku. Semakin banyak pertanyaan yang semakin membuat kepalaku berputar.


Dia siapa? Kenapa kamu bawa dia ke hari istimewa kita?Kamu tampak tenang duduk di samping kursiku. 


Aku menatapmu dengan tatapan penuh tanya. Kau mengalihkan tatapanku lalu memperkenalkan gadis yang kau bawa, “Agnes Kenalin, nama dia Prisca”.
Prisca menjulurkan kedua tanganya sambil memberikan senyuman terbaiknya. Aku hanya membalas jabatan tangannya, kemudian menyebutkan namaku. “Dia siapa,Lih? Kamu belum pernah cerita sebelumnya ke aku.” Tanyaku sinis.
Kamu hanya diam, menundukkan kepala ke bawah. Aku semakin bingung dibuat olehmu. Perasaan tidak tenang timbul dalam benakku.


Ayo, Galih. Jawab pertanyaan aku. Dia siapa? Aku butuh jawaban darimu.



“Jadi, sebenarnya…..” nada suaramu bergetar seperti takut.


Sebenarnya apa? Mengapa semuanya menjadi semakin rumit seperti ini?


“Sebenarnya, aku calon tunangannya Galih” Dengan rasa bangga Prisca menlanjutkan jawabanmu.




Jawaban yang terdengar menusuk; Lebih dalam dari sekedar tertusuk duri.

Kamu mengangkat kepala, mengangguk.
Sekujur tubuhku lemas tak berdaya mendengar hal tersebut. Aku menggigit bibir sekeras-kerasnya menahan air mata yang sudah siap untuk tumpah membanjiri wajah yang sudah tidak lagi aku pedulikan. Tanpa pamit, aku segera keluar dari mengambil tas yang terletak di atas meja kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
***


Di meja yang sama seperti hari kemarin, aku duduk ditempat biasa. Galih masih sama seperti kebiasaannya dahulu, ia duduk di sebelah kananku. Kami sama sama memesan menu andalan di kafe ini sama seperti biasa, Hot jasmine tea. Semuanya tampak sama, seperti tidak ada yang berubah. Hanya saja, Galih dan aku lebih banyak membisu. Bahkan, dari awal datang aku hanya menundukkan kedua kepalaku.

“Aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku.Maafkan aku, Nes. Aku harap kamu bisa ngerti.” Pengakuan kecil Galih memecahkan keheningan di antara kita.

“Kamu baik baik aja kan?”

Aku menghela napas perlahan, “Aku baik-baik aja kok”.

Aku tahu sebenarnya kamu bohong.” Ujarnya dengan tatapan menyesal.


Ya. Kamu benar Galih. Aku tidak baik-baik saja. Hatiku sungguh sakit. Sakit sekali rasanya!



 “Aku baik-baik saja Galih. Sungguh.” Jawabku perlahan berupaya meyakinkan Galih.


Aku terdiam sejenak. Semakin lama aku membisu, semakin Galih menatap kedua mataku lamat lamat.


Galih, memang hanya kamu yang benar benar mengerti keadaanku!



“Maafkan aku…” Suaraku perlahan lirih dan menyusut. Kedua mataku yang semula kering mulai basah menahan tangis.


“Tidak. Kamu tidak salah. Ini semua salahku.”  Galih merangkul badan mungilku dengan lengannya yang cukup besar.



STOP, Galih. Berhenti buatku untuk kembali mencintaimu.


“Galih, Berhenti.” Aku melepaskan rangkulan Galih.


Aku harus belajar untuk melupakan hal hal yang berbau tentang Galih, termasuk rangkulan ini. Rangkulan yang dahulu saat aku nantikan, karena kini aku tahu bahwa rangkulannya bukan untukku lagi.

Aku menatap kedua matanya dalam-dalam. “Aku tau bahwa ini sangat berat buatku.” Ucapku dengan suara bergetar.
Aku memalingkan wajah tak sanggup menatap Galih.

“Tapi aku akan belajar untuk berhenti mencintaimu, karena aku sadar…”
Air mataku mengalir dengan derasnya. Aku mengigit keras keras bibirku yang bergetar, “bahwa kamu memang bukan untukku……….”
“……………….. Aku akan berusaha untuk melupakanmu, Lih. Begitu lebih baik bukan?”

Perlahan aku memberanikan menatap dirinya. Matanya berkaca-kaca menampilkan sebuah kekecewaan dan penyesalan. Ia mengangkat kedua lengan besarnya, Aku memejamkan kedua mataku, membiarkan tangan dinginnya menghapus air mataku untuk yang terakhir kalinya. Aku diam terpaku di depan lelaki yang dahulu kusebut dengan jagoanku.


“Cinta bukan hanya perkara memiliki. Tapi mencintai adalah saat kamu dapat berkorban bagi orang kamu cintai.”
Aku menghela napas panjang, “Jaga dia baik baik ya, Lih.” Ucapan terakhirku sebelum akhirnya berdiri dan membalikkan badanku. Aku setengah kecil berlari meninggalkan Galih dan seluruh kenangan bersamanya.


Rabu, 08 Februari 2017

Cara terbaik untuk jatuh hati





 
Cara terbaik untuk jatuh hati

Tak perlu waktu yang lama untuk membuat hatiku jatuh kepadamu. Pertemuan singkat tanpa disengaja menjadi pintu masuknya aku ke dalam dunia yang disebut “Cinta”. Indah memang, namun juga penuh dengan lika-liku.
Saat itu istirahat pertama, saat yang paling dinantikan oleh sejuta umat berseragam sekolah--terlebih bagi mereka yang sedang terkena pelajaran guru killer. Tanpa ragu aku beserta sahabatku yang lain setengah berlari menghampiri kantin sekolah. Dengan wajah sedikit lemas dan tawa kecil karena guyonan kilat yang sering hinggap dikala obrolan tak penting, kami melewati lapangan olahraga yang sedang ramai penghuni. Sepasang mataku dengan polosnya memperhatikan kerumunan siswa laki-laki berseragamkan SMA yang tengah sibuk mengejar dan dikejar demi sebuah  bola yang sering disebut basket. Tanpa bertanya pada mereka, orang lain pasti setuju bila pesonamu lah yang paling menarik diantara yang lain. Senyum bahagia yang tak sengaja tertangkap saat kau berhasil memasukkan bola ke dalam ring membuat mata ini ingin berlama lama untuk memandangnya. Enggan rasanya untuk pergi namun panggilan alam mengusik mata untuk berhenti mengulik orang itu. Cacing di dalam perutku yang penuh ego dan tidak sabaran segera bernyanyi dengan nyaring meminta untuk segera dipuaskan hasratnya.  Dengan penuh ketidakrelaan aku mempercepat langkahku untuk mencegah kerumunan cacing ini lebih mengamuk.
Semenjak hari itu aku mulai disibukkan dengan kegiatan tentangmu; dimulai dengan ingin mencari tahu siapa namamu sampai ke hal-hal yang orang lain tidak ketahui. Aku masuk ke dalam tahap PENASARAN.  Tahap yang sangat aku sukai.
 Aku yang termaksud tidak terlalu begitu suka memperhatikan orang sekitar, Setengah mati mencari siasat bagaimana cara untuk mengetahui namamu. Dimulai dengan melihat badge nama yang tertera di dada kanan seragam osismu. Percobaan pertama dan kedua gagal. Percobaan ketiga aku hanya mendapat nama depanmu saja. Aku cukup senang saat itu karena langkahku untuk mengenalmu semakin dekat. Aku terus coba lagi,dan lagi karena aku bukan wanita lemah yang mudah menyerah. Aku terus mencoba siasat itu sampai akhirnya aku akan berhasil  mendapatkan namamu. Setelah kegagalan ke sekian kali, aku akhirnya tahu namamu dengan menebak-nebak setiap huruf yang kudapat di setiap percobaan. YEAY! Aku senang sekali waktu itu. Segera aku mencari namamu pada kotak pencarian di salah satu media sosial yang sedang hits saat itu. Namun  di luar ekspektasi, hasilnya nihil.
Menyerah? Maaf aku tidak mengenal kata itu. Aku masih tetap degil, ingin mencari tahu namamu. Siasat pertama boleh jadi kurang mujur, lalu aku pun memutar otak mencari siasat berikutnya. Pagi, siang, sore  bahkan sebelum tidur pun, dengan begitu semangat  berfikir mencari ide yang dapat aku gunakan untuk tujuan awalku. Bak ditimpa durian runtuh, saat sedang mengerjakan tugas fisika di tengah kerumunan kelas yang gaduh, ide segar datang menghampiri aku yang tengah memain mainkan pensil sambil diketuk ketukan di dekat dahi. Dengan penuh percaya diri untuk mencoba siasat kedua; Mencari tahu namanya lewat buku absen kelas. Bermodalkan huruf yang telah didapat dari percobaan  sebelumnya.
Satu per satu kelas, kamu. Iya. Hanya untuk mencari tahu namamu.
Hari itu tepatnya hari Sabtu, hari dimana siswa - siswa lain mungkin masih terlelap dalam mimpinya. Maklum saja, hari ini adalah hari libur. Hanya demi mencari namamu, aku yang biasanya selalu telat dalam kerja kelompok rela untuk datang dua jam lebih pagi. Dengan mengebu-gebu aku ditemani dengan sahabatku menyusuri satu per satu kelas, menelisik ke dalam setiap buku absen yang ada. Menyusuri deretan nama yang tertera, berharap untuk menemukan kunci yang selama ini aku cari.
BOOM!
Betapa dewi fortuna berpihak padaku hari ini. Saat sahabatku sudah mengomel karena belum juga menemukan namamu, hatiku terus ingin bergerak memasuki ruangan kelas yang terletak di paling ujung koridor . Dengan memberanikan diri dan mengabaikan keluhan sahabatku, aku menerobos masuk ruang kelas yang tidak terkunci. Di dalam buku absen biru yang disampul bening rapih, mataku tertuju pada satu nama yang sangat aku yakini bahwa itu adalah kamu.           
 Senyummu adalah candu bagiku. Yang selalu memaksaku untuk terus memandangmu tanpa jemu. Kesederhanaanmu  berhasil menjeratku, hingga sekarang.

Aku tidak tahu apakah ini yang namanya Cinta, yang aku ketahui hanyalah aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu.

Dan mataku tidak dapat berpaling selain dari padamu.

 Kau lihat? Hanya perlu beberapa detik bagiku untuk jatuh hati padamu. Berawal dari senyuman lembut yang mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Cinta? Terlalu dini sepertinya untuk anak berseragam putih biru seperti aku saat itu. Atau mungkin saat itu aku hanya terobsesi. Obsesi yang keblablasan hingga sekarang.  

 -------------------------------------------------------------------




jangan lupa follow twitter gua ya gengs : @annatheresia_